KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN

Byadmin

KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN

Oleh : Ibnu sina

Tidak terasa kita telah berada di tengah Bulan Sya’ban. Bulan ini seringkali dilalaikan oleh manusia. Hingga Rasulullah SAW bersabda: “Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan”. (HR. An Nasa’i dihasankan oleh Al Albani).

Ternyata bulan Sya’ban adalah bulan yang istimewa. Karena pada bulan ini diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda dalam kelanjutan hadits di atas: “Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam”. (HR. An Nasa’i dihasankan oleh Al Albani).

Itulah keutama’an bulan Sya’ban yang pertama. Bulan diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT.

Keutamaan kedua bulan Sya’ban adalah, pada pertengahannya. Inilah yang dikenal dengan istilah Nisfu Sya’ban. Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan nishfu Sya’ban : “Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam nishfu Sya’ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhlukNya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya”. (HR Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al Albani).

Diantara amal di bulan Sya’ban yang dicontohkan Rasulullah SAW, yang pertama, adalah memperbanyak puasa sunnah. Dalam sebuah hadits dijelaskan : “Usamah bin Zaid berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di Bulan Sya’ban,” Rasulullah menjawab, “Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan ini amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa.” (HR. An Nasa’i dihasankan oleh Al Albani).

Begitulah Rasulullah SAW banyak berpuasa di Bulan Sya’ban sekaligus menginginkan agar ketika amalnya diangkat, beliau dalam keadaan sedang berpuasa.

Ummul Mukmin ‘Aisyah juga meriwayatkan : “Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada Bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari).

Tahulah kita bahwa berpuasa sunah di Bulan Sya’ban menjadi begitu istimewa karena pada bulan ini amal diangkat, dan sekaligus persiapan untuk puasa di Bulan Ramadhan.

Namun, yang perlu diperhatikan, tidak boleh mengkhususkan berpuasa pada satu atau dua hari terakhir kecuali puasa yang harus ditunaikan (karena nadzar, qadha’ atau kafarat) atau puasa sunah yang biasa dilakukan (puasa Daud, Senin Kamis). Rasulullah SAW bersabda :  “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang yang memang seharusnya/biasanya) melakukan puasa pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa.” (HR. Bukhari).

Amal kedua pada Bulan Sya’ban ialah melunasi hutang-hutang puasa, khususnya yang masih belum selesai meng-qadha’ puasa Ramadhan sebelumnya. ‘Aisyah berkata : “Aku punya hutang puasa Ramadhan, aku tak dapat mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban, karena sibuk melayani Nabi SAW.” (HR. Bukhari).

Amal ketiga pada bulan Sya’ban ialah memperbanyak ibadah dan amal kebajikan secara umum, seperti shalat Rawatib, Qiyamullail, Tilawah Al Quran, bershadaqah. Karena ketika amal kita diangkat, amal kita benar-benar bagus pada bulan itu, asal sesuai sunah.

Adapun malam nishfu Sya’ban, sebagaimana hadits di atas, memang memiliki keutamaan. Ibnu Taimiyah menegaskan :”Adapun malam nishfu Sya’ban, didalamnya terdapat keutamaan”.

Karena itu, sebagian ulama salaf dari kalngan tabi’in di Negeri Syam, seperti Khalid bin Ma’dan dan Luqman bin Amir menghidupkan malam ini dengan berkumpul di Masjid untuk melakukan ibadah. Dari merekalah kaum muslimin mengmabil kebiasaan itu. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, “Ini bukan bid’ah!”

Ulama Syam lain, diantaranya Al Auza’i, tidak menyukai perbuatan berkumpul di Masjid. Tetapi beliau menyetujui keutamaan shalat, baca Al Qur’an pada nishfu Sya’ban jika dilakukan sendiri-sendiri. Pendapat ini yang dikuatkan Ibn Rajab Al Hanbali dan Ibnu Taimiyah.

Adapun Ulama Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, dan para pengikut Imam Malik menganggap Nishfu Sya’ban sebagai ­bid’ah. Namun, qiyamullail sebagaimana disunahkan dan puasa disiangnya sebab termasuk Ayyaumul bidh ialah baik.

Semoga perbedaan pendapat ini dipahami dengan baik dan tidak menghalangi kita untuk melaksanakan segala amal ibadah utaman pada bulan Sya’ban.

Wallahu a’lam bishshawab…..

About the author

admin administrator

Leave a Reply