Social Movement

Byadmin

Social Movement

Oleh : Yohandromeda Syamsu

 

Selama ini gerakan keagamaan identik dengan urusan-urusan ritual yang bersifat privat dan ada kecenderungan untuk menganggap agama hanya semata mengurus persoalan rohani. Bahkan, beragam masalah dalam hidup dan kehidupan selalu dikaitkan dengan soal spiritualitas (agama). Jika benar agama hanya mengurusi soal rohani, hal ini akan bertentangan dengan prinsip kunci dari semua agama di Bumi ini, yakni keadilan.

Dalam Islam, keadilan menduduki posisi sangat penting dan terkait dengan hampir semua urusan duniawi. Bagaimana manusia menakar keadilan jika agama semata mengurusi rohani dan spiritualitas. Salah satunya diwujudkan dalam praktek ibadah zakat. Zakat yang merupakan rukun Islam keempat, adalah wujud nyata dari pembelaan Islam terhadap prinsip keadilan. Zakat juga menawarkan pengelolaan uang negara sekaligus mengoreksi tradisi pengelolaan uang publik oleh kekuasaan yang hanya berpihak pada kepentingan elite.

Lembaga zakat dalam Islam memberikan kemungkinan upaya pemberdayaan bagi masyarakat lemah dan miskin. Kehadiran zakat secara tidak langsung menegaskan bahwa uang publik adalah uang Allah (haq Allah). Ini bermakna uang tersebut harus digunakan di jalan Allah SWT dan penguasa hanya berkedudukan sebagai amil (penyalur). Zakat juga memperkenalkan istilah tarif baku (miqdar), kekayaan yang jadi obyek pajak (maal zakawy), dan batas minimal terkena pajak (nisab) secara proporsional. Tidak berhenti di situ, zakat juga mengatur bagaimana membelanjakan uang yang terkumpul. Bahwa uang itu pertama-tama harus dibelanjakan untuk kepentingan rakyat, terutama mereka yang lemah dan fakir miskin, apa pun agamanya. Islam sebagai ajaran spiritual dan moral sesungguhnya melihat problem kemiskinan. Kalau hampir semua nabi memulai dakwahnya dengan upaya pemberdayaan masyarakat miskin, itu karena memang di situlah peran sentral agama diperlukan. Dan, tidak satu pun agama yang memberi penghargaan terhadap mereka yang serakah.

Masrcel Boisard seorang pengamat dunia Islam menyebutkan, zakat memberi kemenangan terhadap egoisme diri atau menumbuhkan kepuasan moral karena telah ikut mendirikan sebuah masyarakat Islam yang lebih adil. Ibadah zakat ikut menciptakan keadilan sosial dalam masyarakat. Dalam bahasa Roger Garaudy, zakat adalah satu bentuk keadilan internal yang terlembaga sehingga dengan rasa solidaritas yang bersumber dari keimanan itu, orang dapat menaklukan egoisme dan kerakusan diri.

Dengan demikian, zakat tidak sekadar menjangkau hubungan teologis dengan Tuhan, tetapi juga merefleksikan kehidupan sosial. Parameternya adalah, orang yang memiliki kesadaran hidup yang transendental (dekat dengan Tuhan) seharusnya merefleksi ke dalam kesadaran horizontal, seperti peduli terhadap masyarakat sekitar. Memang zakat dalam Islam dimaksudkan sebagai ajaran sosial, selain sebagai ibadah ritual yang ditujukan untuk menyucikan jiwa atas harta yang diperolehnya. Yang jelas, efek sosial dari ajaran zakat amat mengena pada kepedulian terhadap masyarakat yang tidak mampu.

Saat ini, bukan persoalan zakat dikelola negara atau tidak, tetapi bagaimana zakat itu bisa bermakna transformatif; menjangkau seluruh kehidupan masyarakat fakir-miskin, bukan menjadi perebutan para pengelola. Sebab harus diingat, prioritas zakat diberikan kepada fakir-miskin bukan para pengelolanya. Inilah yang kita khawatirkan, dana zakat yang begitu besar hanya dimanfaatkan oleh mereka yang secara agama tidak berhak menerimanya.

Oleh karena itu, zakat harus bisa dijadikan sarana transformasi masyarakat menuju kehidupan yang berkeadilan dan seimbang secara ekonomi. Sebab, zakat dapat dijadikan modal untuk memperkuat civil service, yang salah satu cirinya adalah independensi. Artinya, suatu gerakan (institusi) yang tidak tergantung kepada negara/pemerintah. Maka amat relevan fungsi zakat sebagai media transformasi masyarakat, dalam mewujudkan apa yang disebut civil society. Tentu, dengan makna transformatif ini, zakat harus dikelola secara profesional untuk penguatan ekonomi masyarakat.

Di sinilah zakat tidak sekadar menjadi aspek kesucian jiwa dan harta, tetapi juga mempunyai efek terhadap pemberdayaan masyarakat.[]

About the author

admin administrator

Leave a Reply